Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sajaknya Dhira

loving each other

loving each other, I don't know how the way to love each other. the eyes are closed when they told me to imagine how the way it works. loving each other, a pleasant moves they say. I always wonder how we find each other, how does it feeling meet. loving each other, but some people calls it's a cliff; "don't dare to be there". there's no one can help, reason why it special, but painful. loving each other, for only those who realize that life is just brief. moving forward to take a part, or step back to give the feeling up. Nadhira Fahrin 1/26/2019

Life is Cruel

source: Pinterest Life is cruel With some title in the beginning Describes how much you were struggling Waves are coming to the shore And a pearl has arrived before those feet A dove coming, needed to feed The crystal clear skies are waiting around till you fall asleep Finding the right time  Taking you around nirvana (Evidently) Life is cruel With disaster in the ending Describes how much you hurted  Nadhira Fahrin, Bekasi 7/2/2018 18.32 WIB

120 Jam

Gambar ini diambil pada tanggal 28 Juli 2017, ketika akan kembali ke Lombok dari Jakarta. 120 jam. Di balik tubir pertanyaan yang menumpuk, di bawah tingginya asa yang bersuara. Dalam terang cahaya fajar menembus celah-celah kosong di pikiran. Tak ada halangan untuk terjadi, karena 120 jam lagi aku kan tiba. 120 jam. Ku hitung dengan jari jemariku setiap jam, harus berapa lama lagi baja terbang itu kan membawa. Riuh gejolak semangatmu yang baru ini kulihat, karena terakhir kali hanya punggung itu yang tampak. Lusa, salam itu kan tiba, di 120 jam lagi. 120 jam. Asaku nyata, asamu juga. Kelam langit itu tak tampak bila bersama. Arah itu juga kan kembali sama. Tak perlu kau ragukan itu, karena timur telah memanggil. Dan dari barat, kan kita songsong mulainya pagi, kan kita bangunkan lelapnya tidur, dan 120 jam lagi, timur kan datang untuk barat.  120 jam. Katika lambaian terakhir bahkan masih terbayang hingga lelapnya tidur, lambaian baru itu akan datang kemba...

Semilir Angin Musim Gugur

source: google Menunggu untuk beberapa detik di sudut senja. Hingga tanda itu berubah hijau. Lima belas detik lebih, tak pasti. Kau lihat, bukan hanya aku. Cukup bersabar. Ketika hijau datang, tak sadar itu sebuah langkah terbaik. Berhenti juga begitu, pijakan terbaik. Dalam 32 bulan berbeda, inilah waktunya. Sabar itu disini tempatnya. Kalau begitu, aku mulai berjalan, terus berjalan. garis belang itu mulai kurasakan keberadaannya. Riuhnya 22 derajat tanpa permisi yang begitu nyata. Semakin nyata, semakin tampak, semakin aku mengetahui keberaaannya . Berhembus diantara jutaan kaki yang tampak sibuk dengan tugasnya. Hanya perlahan aku terhanyut oleh pohon-pohon beton tanpa merusak langit itu. Tidak perlu menuntut lebih, tak ingin menganggap kurang, hanya ini. cukup ini. Berhembus menembus celah-celah pikiran, tak dapat ditolak. Gugur diantara kebahagiaan, memerah daun jatuh yang tak pernah salah. Beristirahat di bawah langkah kecilku, sore itu tak dapat berboho...