Langsung ke konten utama

Dear Dhira

A short message for a mess self, who surrounded by confusion.

Dear Dhira, a semi-mature kid, a weakened soul.

How many time have you spent for thinking about the weight of life
It was just a beginning, Dhira, you were too short to taste all the rigors
But your eyes has just tired to see the whole matter

Dear Dhira, this is you, your another side.

You were not alone, generous souls are around you
There are a lot of kindness that wait for you further
Just strenghten you knees and mind, there is still long way to through

Dear Dhira, I'm your another side, a side that you needed right now, a side that always being aware that you have tired

But Dhira, remember, far ahead you will see the light, the light that lead you be a soul that you want to be.

-From your another soul

Nadhira Fahrin
Padang, 12/03/2018 23.04

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harap

Di waktu yang telah ditentukan, kita akan bertemu. Doaku tak lepas tiap detiknya untuk segala harap inginmu. Ikhlasku selalu menyertai dalam dadaku. Bila angin mambawa ke barat, timur kan bisu. Sampai jumpa lain waktu, Macan.                -Untuk Macan hari Minggu (17092017)  Semarang, 10.21 WIB 14 Sept 2017 --------------------------------------------------- Tulisan kecil untuk Macan, lusa kita berpisah. Semoga selalu tersampaikan doa selalu tersampaikan. Sampai jumpa lusa. Tulisan ini diposting tanggal 14 September 2017. Tidak dimaksudkan untuk seseorang yang spesial. Terima kasih.

Satu Sisi Tak Terduga

Alhamdulillah. Di satu sisi memang terkadang kurang bersyukur, tapi di sisi ini aku perlu bersyukur. Kalau ditanya sudah berapa kali mengeluh? Jawabannya mudah, tiap saat. Hahahaha. Sudah tiga bulan aku hiatus nulis blog, padahal resolusinya rutin ngisi blog. Ndak konsisten, ya. Sebenarnya kemarin-kemarin mau nulis curhatan tentang satu tahun di Mataram (tempat tinggalku sekarang), tapi ada yang jauh lebih menarik untuk ditulis malam ini.  Alhamdulillah. Kata-kata yang sekarang gak cuma Muslim doang yang mengucapkan, bahkan guru matematika-ku yang beragama Hindu aja selalu ucap Alhamdulillah (kalau trouble-maker gak masuk kelas pas pelajaran beliau, hahah). Gak cuma beliau, teman-temanku yang Kristen dan Hindu di kelas juga ucap Alhamdulillah. Tapi ada yang beda, Alhamdulillah-ku yang ini emang beda banget dengan Alhamdulillah yang kuucapkan biasanya. Hari ini (02/16/17) kebetulan sekali aku menemani kakak-kakak crew Zetizen Lombok Post untuk ikut roadshow first a...

Menunggu

source: Pinterest Ketika akan tiba malam, sekumpulan ternak kan kembali. Hawa dingin menusuk kulit, tak pelak bila ia sakit tempo hari dibuatnya. Warna rambut ini memang tak berubah, tapi hati begitu kelabu belakangan. Jiwa-jiwa yang begitu mengabdi tampak hilang satu persatu, pulang bertemu masa lalu. Sunyi sekali di sini, hanya tumpukan partikel putih yang menemani ratusan bingung yang terpikul di pundak. Hingga esok, lusa, akan sama keadaan bila tidak bergerak. Sampai Ibu datang dari kota ini tidak akan merubah keadaan. kupilih tuk berbaring, melepaskan tatapan kosong kearah langit-langit jerami itu, berharap semua hilang. Mulai turun butir-butir salju, jatuh di hidungku, dingin, itu cukup untuk menambah keinginanku untuk bertemu. Secangkir teh tidak cukup berhasil untuk melupakan, mengabaikan, Bila ada waktu, hampiri aku. Maka redup kan kembali hidup, raga kan kembali menyala. Terlalu lama untuk diratapi. Angin hanya sekedar lewat, jauh lebih ...